Oleh: Dr. TD Singh (His Holiness Bhaktisvarupa Damodara Svami)
Menurut tradisi Vedanta, kehidupan dianggap sebagai sebuah partikel
spiritual dasar yang disebut atman atau jiwa atau spiriton. Dalam paradigma
Vedanta, sistem biologis bisa dirasakan sebagai perwujudan dari badan-badan spiritual,
halus dan kasar dengan partikel rohani, spiriton di dalamnya. Partikel
hidup atau spiriton memiliki lima sifat dasar
- Cetana (kesadaran), sveccha (kehendak bebas), sat (kekekalan), cit (pengetahuan) dan ananda (kebahagiaan tertinggi). Badan halus, terdiri dari ego palsu, kecerdasan dan pikiran, bertindak sebagai media dalam mencerminkan kesadaran mahluk hidup dalam tindakan mereka yang lakukan oleh badan kasar. Badan kasar berkaitan dengan badan material, yang terdiri dari lima indera untuk memperoleh pengetahuan (mata, telinga, hidung, lidah dan kulit), dan lima indera kerja (alat bersuara, kaki, tangan, anus dan alat kelamin). Lima objek indera (bau, rasa, bentuk, sentuhan, dan suara) menunjukkan interaksi antara badan kasar dan halus. Sebuah ringkasan menarik dari interaksi komponen-komponen yang berbeda dalam organisme hidup dapat diperoleh dalam Bhagavadgita. Dalam ringkasan ini, badan-badan spiritual, halus dan kasar dijelaskan sebagai sesuatu yang berbeda dan mewakili fungsi yang berbeda yang dimiliki oleh mahluk hidup berkesadaran di dunia nyata. Pada saat kematian badan kasar akan ditinggalkan, dan partikel rohani (spiriton) akan dibawa oleh badan halus kemudian akan dipindahkan ke bentuk kehidupan lain sesuai dengan karma (aktivitas) dari individu tersebut. Prinsip ini disebut sebagai reinkarnasi atau transmigrasi sang jiwa (spiriton).
- Cetana (kesadaran), sveccha (kehendak bebas), sat (kekekalan), cit (pengetahuan) dan ananda (kebahagiaan tertinggi). Badan halus, terdiri dari ego palsu, kecerdasan dan pikiran, bertindak sebagai media dalam mencerminkan kesadaran mahluk hidup dalam tindakan mereka yang lakukan oleh badan kasar. Badan kasar berkaitan dengan badan material, yang terdiri dari lima indera untuk memperoleh pengetahuan (mata, telinga, hidung, lidah dan kulit), dan lima indera kerja (alat bersuara, kaki, tangan, anus dan alat kelamin). Lima objek indera (bau, rasa, bentuk, sentuhan, dan suara) menunjukkan interaksi antara badan kasar dan halus. Sebuah ringkasan menarik dari interaksi komponen-komponen yang berbeda dalam organisme hidup dapat diperoleh dalam Bhagavadgita. Dalam ringkasan ini, badan-badan spiritual, halus dan kasar dijelaskan sebagai sesuatu yang berbeda dan mewakili fungsi yang berbeda yang dimiliki oleh mahluk hidup berkesadaran di dunia nyata. Pada saat kematian badan kasar akan ditinggalkan, dan partikel rohani (spiriton) akan dibawa oleh badan halus kemudian akan dipindahkan ke bentuk kehidupan lain sesuai dengan karma (aktivitas) dari individu tersebut. Prinsip ini disebut sebagai reinkarnasi atau transmigrasi sang jiwa (spiriton).
Srimad Bhagavadgita menyebutkan bahwa 'spiriton' berbeda dari materi, sebagai berikut:
bhumir apo
‘nalo vayuh kham mano buddhir eva ca
ahankara itiyam me bhinna prakrtir astadha
apareyam itas tvanyam prakrtim viddhi me param
ahankara itiyam me bhinna prakrtir astadha
apareyam itas tvanyam prakrtim viddhi me param
jiva-bhutam
maha-baho yayedam dharyate jagat
Terjemahan: "Tanah, air, api, udara, akasa
(eter), pikiran, kecerdasan dan ego palsu- keseluruhan
delapan unsur ini menyusun tenaga-tenaga material yang terpisah dari-Ku (Tuhan
Krishna). Wahai
Arjuna yang berlengan perkasa, di samping tenaga-tenaga tersebut, ada pula
tenaga-Ku yang lain yang bersifat lebih tinggi, yang terdiri dari para makhluk
hidup (spiriton-spiriton) yang menggunakan sumber-sumber alam material yang
rendah ini.
Menurut Vedanta, pengetahuan transendental spiriton dan fungsi yang melekat di dalamnya, bhakti yoga (pelayanan bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa) adalah esensi utama dari spiritualitas. Bhagavadgita merujuk pada ilmu pengetahuan ini sebagai raja-vidya raja-guhyam pavitram vidya idam uttamam pratyaksavagamam dharmyam su-sukham kartum avya yam, yang artinya, “Pengetahuan ini adalah raja dari pendidikan, yang paling rahasia dari semua rahasia. Ini adalah pengetahuan yang paling murni, pengetahuan ini adalah kesempurnaan dharma, karena memungkinkan seseorang melihat sang diri secara langsung melalui keinsafan. Pengetahuan ini kekal dan dilaksanakan dengan kegembiraan.” Dengan makna bahwa tujuan akhir dari kehidupan manusia adalah untuk menemukan identitas rohani kita yang sebenarnya, dan hubungan kita dengan Tuhan.
Aphorisme pertama Vedantasutra (1.1.1) menyatakan: athato brahmajijnasa, yang berarti, “Dalam bentuk kehidupan manusia, seseorang harus bertanya tentang Realitas Tertinggi.”: Ketika seseorang mencapai bentuk manusia, kesadaran (cetana), kecerdasan (buddhi), pikiran (manas) dan indera (indriyas) sepenuhnya dikembangkan untuk pertanyaan ilmiah spiritual. Dengan demikian manusia benar-benar dilengkapi untuk membuat jijñasa (pertanyaan) yang paling dalam - pertanyaan spiritual. Dengan pertanyaan ini, sambandha, hubungan antara sang diri dengan Tuhan akan terbentuk dan pengetahuan spiritual yang murni akan sang diri akan dipahami. Pengetahuan spiritual ini akan dapat membimbing perjalanan hidup setiap orang. Bisa disimpulkan bahwa menurut pandangan Vedanta tentang kewajiban utama kemanusiaan, termasuk orang-orang lanjut usia dan mereka yang sedang dalam akhir hayatnya.
Menurut
Vedanta, janma-mrtyu-jara-vyadhi, yang berarti,
kelahiran, kematian, usia tua dan penyakit (Bhagavadgita
13.9) adalah empat penderitaan kehidupan nyata. Tidak ada
ilmuwan atau filsuf yang
benar-benar mampu menemukan solusi untuk empat kondisi menyedihkan
ini. Tak seorang pun suka menjadi tua dan cacat, tetapi hal ini tidak bisa
dihindari bagi setiap orang
seiring berjalannya waktu. Namun, jika seseorang memupuk pondasi spiritual yang diberikan oleh Vedanta, maka ia dapat
melampaui dan tetap tidak terganggu oleh penderitaan material berupa usia
tua dan kematian. Srila A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, salah satu dari vaisnava acharya termahsyur dan ahli Veda yang agung di abad ke-20,
dengan jelas menyatakan:
"Dipandu oleh apa yang disebut psikolog dan filsuf, orang-orang di jaman modern ini tidak memahami kegiatan badan halus,
sehingga tidak dapat memahami apa yang dimaksud dengan transmigrasi sang jiwa. Dalam
hal ini kita harus mengambil pernyataan yang sah dari Bhagavadgita, 2.13:
dehino ‘smin yatha dehe kaumaram yauvanam
jara
tatha dehantara-praptir dhiras tatra na muhyati
tatha dehantara-praptir dhiras tatra na muhyati
Terjemahan: Seperti halnya sang roh terkurung di
dalam badan terus menerus mengalami perpindahan, di dalam badan ini, dari masa
kanak-kanak sampai masa remaja sampai usia tua, begitu juga sang roh masuk ke
badan lain pada waktu meninggal. Orang yang tenang tidak bingung karena
penggantian itu.”
Hal ini sangat
penting bagi mereka yang tulus
untuk memahami interaksi antara unsur-unsur kasar dan halus dengan partikel kehidupan,
spiriton. Masalah-masalah penuaan dan dying bisa diselesaikan dengan demikian bermakna dengan
pengetahuan ini. Dalam hal ini, lebih lanjut Bhagavadgita menyebutkan
dalam ayat 14.20:
gunan etan atitya trin dehi
dehan-samudbhavan
janma-mrtyu-jara-duhkhair vimukto ‘mrtam asnute
janma-mrtyu-jara-duhkhair vimukto ‘mrtam asnute
Terjemahan: Bila makhluk hidup di dalam badan
dapat melampaui ke tiga sifat alam yang berhubungan dengan badan material, ia
dapat dibebaskan dari kelahiran, kematian, usia tua dan dukacitanya hingga ia
dapat menikmati minuman kekekalan bahkan dalam kehidupan ini sekalipun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar