DESENSITASI
PADA PENYAKIT ALERGI
I
Wayan Nariata. Residen Ilmu Penyakit Dalam FK UNUD/Denpasar
Desensitisasi (allergy
immunotherapy, hyposensitization, atau "allergic
shot"), merupakan suatu cara
yang efektif untuk pengobatan rhinitis alergi, asma alergi, dan hipersensitivitas
terhadap sengatan serangga. Desensitasi ditunjukkan pada penderita yang
mengalami hipersensitivitas terhadap allergen tertentu yang telah terbukti
melalui tes kulit atau pengujian in vitro. Tujuannya adalah untuk mengurangi reaksi
alergi penderita bila mendapat paparan allergen berikutnya. Pengobatan dimulai dengan dosis rendah dan
ditingkatkan secara berkala untuk mencegah reaksi yang berat. Secara bertahap
dosis meningkat dan diberikan sekali atau dua kali seminggu sampai tubuh
menjadi toleran terhadap alergen. Setelah dosis pemeliharaan tercapai interval
antara pemberian allergen dapat berkisar antara dua dan enam minggu. Imunoterapi
dapat diberikan terus-menerus selama beberapa tahun. WHO telah menyetujui
dan menganjurkan untuk menggunakan istilah ekstrak allergen menjadi vaksin
allergen. Ada beberapa teori mengenai bagaimana mekanisme imunoterapi atau
desensitasi akan memberikan kekebalan terhadap allergen yang dicurigai,
diantaranya:
A.
Blocking antibody
Di pelopori oleh Cook dkk., pada tahun 1930
dimana di duga imunoterapi spesifik berhubungan dengan induksi blocking antibody yang ternyata berupa
IgG. Mekanisme ini di awali oleh ditangkapnya allergen oleh IgG terutama IgG4
sebelum allergen berikatan dengan IgE pada permukaan basofil/sel mast yang
merupakan sel efektor sehingga tidak terjadi aktivasi dan degranulasi.
Imunoterapi spesifik dalam jangka wakt lama menimbulkan pergeseran sintesis
IgG1 ke IgG4. Dikatakan bahwa IgG1 akan meningkat dan akan menurun perlahan setelah
tahun kedua. IgG lebih tinggi pada tahun pertama bila dosis perawatan diberikan
setiap minggu dan menurun bila dosis perawatan di perjarang menjadi sekali
sebulan. Imunoterapi dengan cara protokol
cepat dapat menimbulkan toleransi klinis yang cepat meskipun sintesis blocking antibody belum terjadi dalam
beberapa jam. Sehingga induksi blocking
antibody yang merupakan proteksi pada imunoterapi spesifik masih merupakan
kontroversi.
B. Penurunan
IgE
Desensitasi
akan menginduksi peningkatan IgE serum yang sementara diikuti oleh penurunan
secara perlahan dalam beberapa bulan atau tahun. Perubahan kadar IgE tidak dapat diterangkan
dengan menurunnya respon terhadap allergen spesifik akibat desensitasi oleh
karena penurunannya terjadi lambat, relatif kecil dan hampir tidak berhubungan
dengan perbaikan klinis yang diperoleh dengan desensitasi. Juga ukuran tes kulit tidak berhubungan dengan efikasi
desensitasi sehingga tes kulit tidak dapat dilakukan untuk memantau
keberhasilan terapi.
C. Perubahan
imunologis
Berbagai
perubahan immnologis dapat ditemukan terjadi pada desensitasi, namun ada
perbedaan dalam respon yang diberikan tergantung individu, rute pemberian,
dosis, serta durasi desensitasi. Beberapa perubahan yang terjadi pada desensitasi
adalah
-
Penurunan
IgE spesifik
-
Pajanan
allergen musiman tidak meningkaatkan IgE
-
Peningkatan
blocking antibody IgG1 dan IgG4 (puncaknya pada 2 tahun)
-
Peningkatan
aktivasi sel Ts
-
Penurunan
pelepasan histamjin oleh sel mast
-
Penurunan
faktor kemotaktik eosinofil
-
Penurunan
IL-4, IL-5, IL-10 dan peningkatan IL-13 dan sekresi nasal, peningkatan IgA dan
IgG spesifik.
D. Teori
selular
Berbagai
studi menunjukkan adanya penurunan sensitivitas organ sasaran dengan adanya
supresi terhadap fase dini dan lambaat daan hipereaktivitas bronkus yang disertai dengan menurunnya
mediator sel inflamasi. Penurunan jumlah sel mast dan eosinofil juga terlihat
pada desensitasi yang diberikan pada jangka waktu yang lama.
E. Pergeseran
respon Th2-Th1
Konsep
dasar dari munculnya manifestasi alergi adalah terjadinya aktivasi sitokin
proinflamasi. Beberapa sitokin yang dominan melalui aktivasi Th2 terutama IL-4,
IL-5, IL-13. Pemberian desensitasi
diharapkan akan menghindari proses imun melaalui IgE dengan perantaraan
Th2 melalui induksi respon IgG dan memacu pergeseran respon oleh Th1. Diduga
terjadi anergi sel T perifer dan reaktivasi respon sel T terjadi atas pengaruh
mileu sitokin jaringan yang menentukan apakah desensitasi akan berhasil atau
tidak. Oleh karena itu untuk keberhasilan desensitasi harus digunakan varian
allergen yang dapat dikenal oleh reseptornya secara utuh pada sel T sedangakan
tempat ikatan yang menggunakan jalur IgE dihilangkan. Anergi terhadap sel T
terjadi akibat pengaruh IL-10 yang diproduksi oleh sel T spesifik.
F. Produksi
IL-10 dan anergi sel T
Desensitasi
akan menginduksi produksi IL-10 dengan sifat autokrin yang menimbulkan anergi
spesifik pada sel T perifer. Desensitasi juga akan menurunkan perbandingan
IgE-IgG4 antigen spesifik dalam darah perifer. Aktivitas IL-10 juga akan
mencegah aktivasi reaksi inflamasi oleh
sel mast dan eosinofil. Th2 yang
memproduksi sitokin inflamasi juga bisa ditekan dengan pemberian allergen dosis
tinggi yang menghasilkan mileu sitokin dengan dominasi IFN-gamma.
G. Perbedaan
dalam presentasi antigen
Pada
aktivasi jalur klasik melalui IgE terjadi release IL-4 dan Il-3 yang tinggi,
sebaliknya interleukin tadi juga mengaktivasi pembentukan leebih banhyak IgE,
sedangkan aktivasi Il-10 akan mengaktifkan eosinofil. Pajanan allergen kan
memacu Th naïf berdeferensiasi ke profil Th2 yang melepaskan IL-4, IL-5, IL-13.
Desensitasi akan memacu aktifitas Th1 dengan meningkatkan produksi IL-2 dan IFN
gamma serta mencegah proliferasi Th2. Kesemuanya akan menurunkan infiltrasi
eosinofil, produksi IgE dan pelepasan mediator.
Secara ideal tujuan dari terapi adalah untuk menghilangkan
sensitivitas alergi. Noon melaporkan desensitasi pertamakali untuk hay fever
tahun 1911 dan sejak saat itu digunakan secara luas untuk mengobati hay fever
dan asma alergi. Desensitasi jangka pendek juga dilakukan pada kasus alergi
penisilin dan insulin. Desensitasi oral secara sukses juga dilaporkan untuk
erupsi kulit yang diceetuskan oleh obat. Prosedur umum dari tindakan desensitasi pada
rhinitis alergika saat ini serupa dengan metode yang yang sebelumnya dilakukan
oleh Noon. Dosis diberikan dengan jadual 2-4 minggu dan lama perawatan
masing-masing penderita berbeda secara individual untuk alergi polen 3-6 bulan sebelum
dimualinya perkiraan musim polen. Injeksi diberikan secara subkutan, oral,
sublingual, inhalasi, serta nasal namun tidak semua memberikan efektivitas yang
baik untuk mencegah penyakit yang disebaabkan aleh antibody IgE. Ekstrak yang
digunakan untuk desensitasi sama dengan yang digunakan untuk tes
sebelumnya.
Teknik yang benar harus dilakukan untuk suksesnya terapi,
oleh karena risiko reaksi sistemik yang besar maka fasilitas untuk penanganan
reaksi sistemik harus tersedia. Reaksi
fatal sering terjadi dlam 30 menit setelah paparan dan untuk reaksi yang lebih
ringan maka tanda seperti pembengkakan atau gatal pada daerash suntikan bisa diterima
sebagai tanda adanya reaksi. Umumnya teknik yang dipakai adalah injeksi namun
cara lain yang dapat ditempuh adalah dengan pemberian melalui sublingual, oral,
nasal dan inhalasi.
Belum ada data dan pat yang pokan yang pasti mengenai lama
keseluruhan desensitasi pada penyakit atopi. Variabilitas perjalanan penyakit,
paparan linkungan terhadap banyak allergen indoor (debu, mold, binatang),
outdoor (polen, molds) allergen, efek faktor non alergi (iklim, polusi,
infeksi,stress) membuat penelitian terkontrol jangka panjang menjadi sulit. Perubahan
imunologis yang setelah desensitasi
apakah tunggal atau kombinasi tidak berhubungan secara mutlak dengan perbaikan simptomatik untuk meyakinkan
monitoring imunologis in vitro untuk menilai durasi terapi yang optimal. Secara
klinis ada perbaikan gejala terhadap alergi polen setelah 3-4 tahun terapi
injeksi. Tidak ada data kekambuhan gejala setelah injeksi dihentikan. Banyak
ahli yang merekomendasikan terapi bissa dihentikan setelah 2 atau 3 tahun tanpa
gejala.
Desensitasi telah digunakan selama lebih dari 80 tahun untuk
mengobati rhinitis alergi dan saat ini memberikan keuntungan yang baik. Juga
diindikasikan pada penderita dengan alergi terhadap bahan bahan yang tidak bisa
dihindari seprti allergen inhalan seperti polen, jamur dimana gejala yang
ditimbulkan cukup berat, jangka waktu lama, dan tidak terkontrol baik dengan
antihistamin. Desensitasi tidak diindikasikan pada
dermatitis atopi atau gastroenteropati alergika. Pasien dengan dermatitis atopi
dapat menerima injeksi untuk rhinitis alergika atau asma bila diindikasikan
tetapi dosis awalnya harus diberikan rendah dan dosis berikutnya diberikan
dengan perlahan oleh karena allergen yang diberikan dapat menyebabkan flare
dermatitis. Desensitasi juga diindikasikan pada penderita dengan anafilaksis
misalnya oleh sengatan hymenopthera
yang memiliki reaksi positif pada tes kulit dengan satu atau lebih venom hymenopthera. Tidak ada indikasi
desensitasi pada penderita dengan reaksi pembengkakan local karena reaksi ini
tidak bisa memprediksi anafilaksis kedepannya. Desensitasi pada anafilaksis akibat
obat seperti penisilin dan insulin memberikan cukup hasil yang baik. Injeksi
ditingkatkan dosisnya dengan interval sekitar 30 menit sampai mendapat kondisi
klinis desensitasi. Penggunaan desensitasi pada asma masih kontroversial.
Berbagai faktor berperan dalam pathogenesis asma seperti faktor nospesifik
berupa udara dingin, latihan jasmani, iritasi, debu, polen dan sebaagainya.
Tujuan desensitasi pada asma bertujuan untuk mengurangi gejala, inflamasi dan
hipereaktivitas bronkus. Meskipun dilaporkan adanya efikasi desensitasi pada
asma namun efek samping dan risiko sistemik juga dilaporkan. Penggunaan
obat-obatan bersama desensitasi dianggap tidak lebih efektif dibandingkan
dengan pemberian obat-obatan saja. Di Inggris penanganan dengan menghindari
allergen bersama farmakoterapi dikatakan lebih murah dibandingkan dengan
desensitasi dan farmakoterapi.
Reaksi
anafilaktik terhadap makanan sering dilaporkan dan bisa berakibat fatal. Salah
satu yang sering dilaporkan adalah sensitivitas terhadap kacang tanah.
Percobaan desensitasi terhadap kacang tanah telah dilakukan dan pemberian
eksrak kacang tanah dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan toleransi pasien
terhadap uji oral dengan kacang tanah namun raksi juga ditemukan reaksi
sistemik berulang bahkan pada suntikan deengan dosis perawatan.
Desensitasi
tidak dianjurkan dimulai pada kehamilan karena peningkatan risiko anafilaksis
dan risiko hipoksia fetus dengan reaksi sistemik, namun meneruskan dosis
pemeliharaan masih direkomendasikan. Desensitaasi juga dikontraindikasikan pada
keganasan, penyakit autoimun, imunodefisiensi, asma tak terkontrol, penggunaan
beta bloker. Penderita dengan penyakit kardiovaskular serta penyakit paru
dengan komorbid multipel juga bukan merupakan kandidat ideal. Tes fungsi paru
dengan FEV1 harus diatas 70% sebelum direkomendasikan untuk mengikuti prosedur
ini.
Efek samping
yang dapt terjadi bervariasi dalam derajat mulai dari reaksi kemerahan sampai
anafilaksis. Reaksi lokal dapat berupa kemerahan, bengkak, gatal, dan panas
ditempat suntikan yang bisa terjadi segera (20-30 menit) atau reaksi lambat
yang dapat berlangsung setelah 48 jam. Kekerapan reaksi sistemik bisa <1%
pada desensitasi konvensional sampai > 36% pada pasien dengan rush desenzitation. Dosis maksimum
antigen sebagai pemeliharaan diharapkan mencapai dosis tertinggi yang dapat
ditoleransi penderita. Secara umum effek samping dibagi dalam:
1. Reaksi
nonspesifik
Berupa
gejala tidak nyaman, sakit kepala, atralgia, dan sebagainya yang diduga tidakk
diperantarai oleh IgE.
2. Reaksi
vasovagal
Dapat
berupa terjadinya pingsan setelah pemberian allergen, hipotensi dengan disertai
oleh bradikardia. Juga dapat ditemukan kulit dingin atau panas, keringat
dingin, mual, dan muntah. Biasanya penderita memberikan respon yang baik dengan
posisi terlentang. Dalam hal ini tidak diperlukan modifikasi dosis.
3. Reaksi
lokal
Reaksi
lokal dapat berupa kemerahan atau bengkak ditempat suntikan. Pada keadaan ini
sering juga diikuti oleh rasa tidak nyaman, dan harus ditangani dengan
memberikan antihistamin dan steroid.
4. Reaksi
sistemik
Beberapa
bentuk reaksi sistemik misalnya:
-
Kemerahan diserai sensasi panas,
diaphoresis
-
Urtikaria, rasa gatal di telapak
tangan/kaki atau kepala
-
Rasa tercekik, dada terasa berat, sesak
nafas, mengi
-
Batuk paroksismal, stridor, disfonia
-
Nausea, muntah, pusing, pingsan
-
Takikardia, hipotensi
-
Angioedema, konjungtivitis
-
Rasa logam di mulut
-
Nyeri keram pada uterus
Penanganan pada reaksi
sistemik memerlukan penilaian terhadap beratnya gejala, penilaian terhadap airway, breathing dan circulation akan
menjadi patokan terapi berikutnya. Adrenalin diberikan pada kasus anafilaksis
dengan atau tanpa disertai syok. Kortikosteroid dan antihistamin sistemik juga
diberikan kecuali pada kondisi hipotensi atau syok pemberian antihistamin harus
ditunda.
Allergen yang
akan diberikan harus melalui tes kulit terdahulu. Identifikasi allergen yang
sangat penting untuk meningkatkan efektivitas terapi. Apabila allergen telah
teridentifikasi maka allergen bisa diberikan sebagai allergen tunggal maupun
kombinasi. Studi terkontrol dengan ragweed dan debu tungau rumah menunjukkan
bahwa dosis allergen optimal adalah 5 sampai 20 mikrogram atau 200 sampai 400
BAU (biologic activity unit) per
suntikan. Dosis aeroallergen juga dihitung dan umumnya diberikan
ekuivalen dengan 1:100 sampai 1:10 berat/volume larutan untuk vaksin
yang tidak terstandarisasi. Dosis pemeliharaan dapat diberikan sekali perminggu
sampai sekali perbulan dengan durasi bervariasi antara 3 sampai 12 bulan.
Suntikan diberikan secara subkutan 0.5 – 1 ml dan jarum suntik no 27 atau 30
untuk menjaga ketepatan dosis. Jarum suntik perlu diaspirasi terlebih dahulu
untuk memastikan tidak masuk pembuluh darah sehingga meningkatkan resiko reaksi
sistemik.
Untuk alergi
terhadap bahan yang muncul sesuai musim seperti alergi tepung sari, maka
suntikan bisa diberikan dalam beberapa minggu saampai beberapa bulan sebelum
musim tiba, dihentikan dan diulang lagi tahun berikutnya. Desensitasi cepat (rush desenzitation) juga dikembangkan
dimana peningkatan dosis allergen dilakukan dalam beberapa jam sampai hari dan
risiko reaksi sistmik maupun local lebih besar. Teknik ini ditujukan untuk
mencapai dosis pemeliharaan dalam waktu yang lebih singkat dengan melakukan tes
1-2 kali dalam seminggu dengan penaikan dosis bertahap beberapa kali dalam
sekali kunjungan.
Desensitasi
terhadap penyakit pernafasan atopi merupakan terapi jangka panjang. Indikasinya
jelas namun pemilihan allergen, dosis, serta frekuensi injeksi serta durasi
terapi sifatnya individual. Keuntungan dan efek samping sulit diprediksi.
Perubahan dalam tingkat serum IGE dan dan IGG blocking antibody berhubungan
tidak dengan baik atas perbaikan klinis sehingga tidak dipakai sebagai untuk
memonitor perkembangan penyakit. Banyak ahli juga melakukan tes kulit secara
berulang dalam interval tertentu namun perbaikan klinis dapat muncul tanpa
perubahan dalam reaktivitas tes kulit.
1. Baratawidjaja
KG. Imunologi Dasar, Edisi keenam. Balai Penerbit FK UI, 2004
2. Tunc
Akkoc, Mubeccel Akdis, Cezmi Akdis.
Update In the Mechanism of Allergen Specific Immunotheraphy. Allergy Asthma
Immunol Res. 20011 January; 3(1): 11-20
3. F
Franco, S Scurati. P Paaaola, M David, C Hillare et al. Development of
Sublingual Allergy Vaccine for grass Pollinosis. Published in; Drug Design,
Development and Theraphy 15 June 2010: 4.
4. Jody
R, Tversky, Anja P, Kristin L, Chichester , Robert G, Hamilton, JohnT.
Subcutaneous Allergen Immunotheraphy Restores Human Dendrtic Cell Innate
Function. Clin Exp Allergy; 40 (1): 94-103. January 2011
5. Lockey
RF, Ledford DK. Allergens and Allergen Immunotheraphy. Clinical Allergy and
Immunology Series. Informa Heaalthcare, New York 2008.
6. Mirakian
R, Ewan P, Durhamw S, Youltenz L, Dugues P, Friedmannz P, Englishk. S, Huber, Nasser S. BSACI guidelines for the management
of drug allergy, Clinical and Experimental Allergy, 39, 43–61, 2008.
7. Scadding
G. K., Durhamw S. R., Mirakianz R., Jones N. S., Leechz S. C., Farooquek S., et
al. BSACI guidelines for the management of allergic and non-allergic rhinitis
Clinical and Experimental Allergy, 38, 19–42, 2008.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar